Tantangan Elektrofikasi Indonesia

22 02 2012

Listrik merupakan salah satu komponen utama yang menjadi infrastuktur terpenting kehidupan saat ini. Semua alat berteknologi tinggi tentunya memerlukan listrik untuk pengoperasian, sehingga Listrik mungkin sekarang dapat dikatagorikan sebagai kebutuhan primer. Indonesia dengan total penduduk sekitar 250 juta orang dengan luas 1,904,569 kilometer persegi dengan jumlah pulau lebih dari 17 ribu menjadikan Indonesia sebagai negara yang cukup besar. Tentunya dalam kurun 67 tahun Indonesia belum dapat mengalirkan listrik keseluruh wilayah Indonesia. Saat ini daerah yang teraliri listrik belum mencapai angka yang di inginkan yaitu 100 % Indonesia teraliri listrik.

Tentunya permasalahan-permasalah terus muncul dalam melistrikan seluruh wilayah Indonesia. Banyak tantangan-tantangan yang harus dilalui diantaranya seperti pembiayaan, faktor eksternal alam, dan faktor SDM serta SDA yang masih kurang disumberdayakan. Tentunya hal ini harus diatasi segera oleh seluruh bagian masyarakat karena hal ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau PLN saja namun seluruh rakyat Indonesia.

Dilihat dari pembangunan sistem kelistrikan Indonesia, Sistem kelistrikan Indonesia menganut sistem seperti negara Belanda tentunya karena Indonesia lama di jajah oleh negara Belanda dimana pembangkit listrik di bangun terpusat lalu disalurkan ke daerah-daerah lainnya dengan sistem transmisi. Tentunya sistem kelistrikan seperti sebenarnya kurang cocok dianut oleh Indonesia dimana memiliki banyak pulau dan daerah yang cukup luas, sehingga biaya akan sistem transmisi cukup besar dan juga faktor-faktor lainnya yang berpotensi mengganggu aliran sistem transmisi.

Dilihat dari perkembangannya sistem kelistrikan Indonesia saat ini lebih cocok menggunakan sistem kelistrikan seperti dinegara amerika dimana pembangkit listrik menghidupi kota masing-masing artinya setiap kota minimal memiliki minimal pembangkit listrik, hal ini tentunya akan mengurangi biaya akan sistem transmisi listrik sehingga harga listrik dapat lebih murah. Tentunya hal ini membuat kota-kota hidup mandiri tanpa terganggu oleh gangguan transmisi ataupun gangguan faktor eksternal pada pembangkit listrik yang letaknya jauh dari daerah.

Tentunya Berbicara mengenai listrik pastinya kita harus berbicara secara ekonomi, karena listrik memerlukan biaya untuk mendapatkannya. Sekarang ini sistem harga tarif dasar listrik yang dibeban kan merata hanya di bagi secara konsumsifitas saja antara untuk konsumsi rumah tangga dan Industri. Tentunya hal ini kurang adil nampaknya dimana wilayah yang dekat dengan pembangkit listrik harus membayar harga yang sama untuk daerah lainnya yang jauh dari pembangkit listik. Seharusnya harga listrik bisa diatur sesuai dengan wilayah, dimana wilayah yang dekat dengan pembangkit lebih murah dibandingkan yang jauh dari pembangkit, tentunya hal yang adil bukan jika diputuskan demikian.

Dengan sistem demikian tentunya akan memliki dampak, dimana pusat ekonomi akan mengelilingi pusat pembangkit tentunya dengan demikian urbanisasi pun akan terbagi-bagi kepusat pembangkit listrik, contohnya saja di Padang apabila memiliki pembangkit listrik tentunya harga listrik akan jauh lebih murah dibandingkan di Jakarta yang jauh dari pembangkit listrik tentunya perpusatan penduduk tidak hanya di Jakarta namun Padang pun dapat berkembang seperti Jakarta begitu pula kota-kota lainnya sehingga kepada kota dan kota metropolitan tidak hanya di Jakarta saja.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: